Di era ketika urusan hati dimulai dari sebuah usapan layar (swipe), validasi diri sering kali bergantung pada jumlah notifikasi, dan patah hati menjadi sebuah proses sunyi yang harus ditanggung sendiri, Mira Sumanti hadir dengan sebuah keberanian yang jarang ditemukan: kejujuran yang telanjang.
Melalui buku perdananya bertajuk Swipe Therapy, Mira merangkum fase paling rapuh sekaligus paling transformatif dalam hidupnya.
Bermula dari rencana pernikahan yang mendadak runtuh hingga keberaniannya untuk kembali menavigasi belantara dating apps, buku ini bukanlah sekadar panduan mencari cinta, melainkan sebuah pengembaraan batin untuk memahami diri sendiri di tengah kekacauan hidup modern yang serba cepat.
Mira menuliskan dengan sangat apik bahwa ketika segalanya hancur, rasa sakit terkadang tidak datang dalam bentuk air mata, melainkan kekosongan yang membekukan.
Sering disebut oleh para pembaca awal sebagai Eat Pray Love versi generasi Tinder, Swipe Therapy tidak menawarkan janji manis tentang pelarian romantis atau perubahan hidup instan yang ajaib.
Alih-alih memberikan solusi klise, Mira justru menyuguhkan refleksi yang sangat jujur mengenai kelelahan emosional, pahitnya kehilangan, serta berbagai pertanyaan besar yang menghantui ketika rencana hidup yang sudah disusun rapi tiba-tiba hancur berkeping-keping tanpa peringatan.
Dalam narasi Swipe Therapy, aplikasi kencan tidak diposisikan sebagai pahlawan yang membawa kebahagiaan maupun musuh yang harus dihindari. Bagi Mira, dunia digital tersebut hadir sebagai ruang eksperimen emosional yang unik, sebuah tempat di mana ia bisa mengamati ulang pola relasi, ekspektasi yang terkadang tidak realistis, luka lama yang belum mengering, hingga keyakinan-keyakinan keliru yang selama ini ia bawa ke dalam hubungan.
Dengan nada sedikit berseloroh namun bermakna dalam, Mira menyebut perjalanan ini sebagai “Swipe Therapy”, sebuah proses di mana setiap pertemuan baru sebenarnya adalah cermin untuk melihat pantulan dirinya sendiri, lapis demi lapis.
Perjalanan ini membawa pembaca melintasi benua dan budaya, mulai dari hiruk pikuk Jakarta, ketenangan Bali, dinamika San Francisco, hingga kehidupan malam Tokyo yang gemerlap.
Di setiap persinggahan, Mira bertemu dengan berbagai sosok yang memberikan perspektif baru, mulai dari seorang neuroscientist yang membedah patah hati dari sisi sains, hingga seorang sutradara ambisius yang menyembunyikan ketidakselarasan batin di balik karya seninya.
Setiap pertemuan tersebut ditulis bukan sebagai kisah cinta picisan, melainkan sebagai kepingan pengalaman yang membentuk pemahaman baru tentang batasan diri, keinginan yang tulus, dan apa artinya menjadi perempuan yang benar-benar mandiri.
Swipe Therapy terasa sangat dekat dengan realitas perempuan urban saat ini—mereka yang ambisius, terbiasa berpikir rasional dalam karier, namun tetap bisa merasa rapuh ketika menyentuh urusan hati.
Buku ini merayakan ketidakteraturan proses pemulihan jiwa (healing), di mana tidak menangis bukan berarti kita sudah baik-baik saja, dan terlihat kuat sering kali hanyalah cara kita belajar untuk bernapas normal kembali.
Ini adalah sebuah memoar tentang keberanian yang sunyi untuk membangun ulang identitas dari nol dan membuktikan bahwa memulai kembali bukanlah sebuah kegagalan, melainkan sebuah fase baru yang memang harus dijalani.
Sebagai kabar gembira bagi para pencinta literasi, masa presale buku Swipe Therapy resmi diumumkan pada 23 Januari 2026 di Zodiac Baresto, Jakarta.
Bagi pembaca di seluruh dunia, peluncuran resminya dijadwalkan pada 3 Maret 2026 dan akan tersedia secara global di platform besar seperti Amazon dan Barnes & Noble. Sementara itu, untuk pembaca di Indonesia, buku ini bisa didapatkan melalui Tokopedia.
Lewat karya ini, Mira Sumanti ingin berbisik kepada setiap perempuan yang merasa hidupnya telah “selesai” bahwa berakhirnya sesuatu bukanlah tanda kekalahan, karena terkadang sesuatu selesai hanya karena tugasnya dalam mendewasakan kita memang telah usai.